Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Viral Anal dan Memekku Jadi Pemuas Nafsu Laki-Laki
Biodataviral.com - Aku dilahirkan di satu kota kecil di propinsi Kalimantan Selatan dan aku dibesarkan disana, tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya seorang anak laki-laki, dan aku juga sekolah seperti halnya anak-anak yang lainnya. Sampai akhirnya aku meneyelesaikan bangku sekolah sampai tingkat SMU, dimana setelah aku lulus dari SMU rasanya hidup ini jadi lebih bebas, tidak dituntut harus belajar tiap hari dan harus masuk sekolah setiap hari yang membuat seakan hidup ini terkungkung didalam kurungan yang tak nampak. Dan pada saat-saat seperti itu aku minta ijin kepada kedua orang tuaku untuk merantau ke pulau Jawa dimana suasana kehidupan lebih moderen dengan segala permasalahannya dan juga tingkat pendidikan atas jauh lebih baik bila dibandingkan dengan ditempat asalku sana.
Berbekal doa restu orang tuaku suatu hari aku memulai perantauanku dengan menumpang sebuah kapal, dalam perjalanan selama berhari-hari cukup membuatku merasa bosan dan jemu akan tetapi tidak banyak kegiatan yang bisa kuperbuat selama itu, sampai akhirnya kapal yang kutumpangi berlabuh di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Ketika itu usiaku belum genap 18 tahun disaat aku memulai petualanganku yang akhirnya aku terseret dalam gelombang kehidupan yang penuh dengan ketidak tentuan ini.
Setelah aku turun dari kapal, aku tidak tahu harus melangkah kemana dan harus kemana, karena aku pada saat itu masih belum mempunyai tujuan yang pasti yang harus kutempuh, aku tidak mempunyai saudara, teman atau sebagainya sebagai tempat tujuanku saat itu. Yang menjadi tekadku saat itu hanyalah ingin mencari informasi tentang pendidikan di berbagai perguruan tinggi yang pada setiap awal tahun ajaran baru, yang seakan-akan berlomba untuk mencari calon mahasiswa sebanyak-banyaknya dan hal itu juga berlaku untuk berbagai macam kursus keterampilan dan lain sebagainya yang coba-coba memanfaatkan lulusan SMU yang baru. Setelah aku mengumpulkan berbagai macam informasi tentang berbagai perguruan tinggi sambil duduk merenungkan akan jurusan apa yang akan kuambil dan juga perguruan tinggi mana yang akan kupilih serta masih banyaknya kesempatan waktu yang tersisa sebelum mendaftar dan mengikuti test masuk perguruan tinggi.
Maka untuk mengisi waktu luang itu aku putuskan untuk pergi kepulau Bali yang konon kata orang adalah pulau dewata atau pulau nirwana. Karena dari Surabaya perjalanan ke Bali jauh lebih dekat dibandingkan kalau aku harus memulai perjalanan ke Bali dari kampung halamanku. Dalam perjalanan itu aku memutuskan untuk naik bus jurusan Surabaya-Denpasar yang banyak berderet dengan berbagai nama itu. Dalam perjalanan dari Surabaya sampai Denpasar tidak ada hal yang istimewa seperti kebanyakan semua penumpang bus dengan perjalanan panjang menggunakan waktunya hanya untuk tidur dan kalaupun berbicara dengan teman sebangku itupun hanya untuk basa basi saja dan kalaupun pembicaraan tidak menarik maka akan saling berdiam diri dan akhirnya mata akan terpejam dengan sendirinya.
Setelah semalan tertidur didalam bus malam paginya aku bangun sudah sampai di Bali dan tidak kuketahui dengan pasti sudah sampai dikota mana itu, yang kutahu perjalanan sampai kekota Denpasar tidak berapa lama lagi sudah sampai, yah mungkin kurang lebih sekitar satu jam.
Artikel Terkait
Sesampainya diterminal bus aku putuskan untuk pergi ketempat rekreasi yang paling terkenal di Bali yaitu pantai Kuta. Maka aku naik bemo atau mikrolet atau apa saja namanya, aku tidak tahu dengan pasti, pokoknya bisa sampai ke Kuta. Setelah sampai didaerah sekitar Kuta aku berjalan kaki sambil menyusuri lorong-lorong jalan yang cukup sempit akan tetapi padat dengan para turis dari mancanegara juga kios-kios kecil yang menawarkan berbagai macam bentuk kerajinan tangan dan cinderamata khas Bali mulai dari gantungan kunci, baju kaos, sarung sampai patung ukiran dan lain sebagainya. Lanjut baca!
Viral Ngewe Anal Seks di Rumah Tante Sange 5
Aopok.com - Laki-laki tersebut tersenyum memandangku, “Dik Tony jadi terangsang yah,” ucapnya tersenyum.
“Bapak suka dengan kontol Dik Tony ini, sudah besar, panjang, bengkok. Bengkoknya ini yang Bapak suka, Bapak jarang mendapatkan kontol yang seperti ini,” ucap Pak Arnan, yang memegang kontolku.Laki-laki tersebut memasukkan kontolku ke dalam mulutnya, mengisap-isapnya, mengemut-emutnya.
“Akhh..” desahku
“Saya sudah tak sanggup lagi Pak, tolong jangan lakukan,” ucapku.
“Jangan khawatir sayang, jangan khawatir,” ucap Pak Arnan, namun terus melakukannya.
Batang kontolku terus diisap-isap, dijilati, biji totongkupun di emutnya dan beralih ke kontolku lagi. Mulutnya menarik-narik batang kontolku, seperti anjing menarik-narik daging. Akhh.. Aku tidak tahan, hingga kakiku mengejang, laki-laki tersebut menghentikan permainannya, memandangku, dan melepas kontolku dari mulutnya, aku tahu laki-laki tersebut menelan mani yang ku keluarkan. Pak Arnan mengelap kontolku lagi. Pahaku mendapat giliran, diusap-usapnya dengan handuk hangat, hingga pantat, dan lubang pantatku di usap-usapnya, hingga akhirnya laki-laki tersebut menyelesaikan pekerjaannya, meletakkan baskom kecil tersebut di atas meja.
Pak Arnan membuka celana pendeknya, laki-laki tersebut tidak memakai kolor lagi, berjalan ke arah ku menaiki ranjang, mendekatiku, hingga tepat kontolnya berada di depan mukaku. Pak Arnan menggenggam kontolnya yang besar dan panjang itu mengarahkan ke mulutku, dia menyuruh untuk mengisap kontolnya seperti yang dilakukannya terhadap kontolku. Dengan pelan aku telan kontol laki-laki tersebut.
“Isap-isap, emut-emut, sayang,” ucap Pak Arnan.
Aku melakukannya, kujilati juga batang kontolnya seperti yang dikatakannya. Perasaan jijik aku belakangkan. Kontol Pak Arnan kembali memasukan kontolnya ke dalam mulutku dan menekan pantatnya, kontolnya masuk lebih dalam, laki-laki tersebut menyodok-nyodok mulutku dengan totongnya.
“Akh.. Akhh.. Akhh,” desahnya merasakan kegelian. Pak arnan mengentot mulutku, hingga desahannya yang panjang membuat dia menghentikan gerakannya, aku merasakan maninya masuk dalam mulutku, mau muntah rasanya aku. Laki-laki tersebut mengeluarkan kontolnya dari mulutku, aku langsung meludah keranjang mengeluarkan maninya dari dalam mulutku. Pak Arnan tersenyum, dan mencumbu bibirku, laki-laki tersebut melumat bibirku, memasukan lidahnya ke dalam mulutku, saat itu Bang Nainggolan keluar dari pintu kamar mandi.
Terkait
Bang Nainggolan mengelus punggung Pak Arnan, laki-laki tersebut membalas dengan mengelus-elus tangan Bang Nainggolan, dan turun dari ranjang memegang kontolnya, Bang Nainggolan jongkok menyambut kontol Pak Arnan dan langsung menelannya, Akhh.. Terdengar desahan kuat Pak Arnan, dan desahan suara kencing Pak Arnan terdengar masuk ke dalam mulut Bang Nainggolan, kontol Pak Arnan dikeluarkan sedikit dan kelihatan dari lubang totongnya, mancur air kencing berwarna putih, dengan enaknya Bang Nainggolan menampung air kencing Pak Arnan dengan mulutnya. Lanjut baca!
Viral Ngewe Anal Seks di Rumah Tante Sange 4
Tradingan.com - Bang Nainggolan menghidupkan TV dan film akan dimulai. Kami terdiam, sementara Pak Arnan dengan santai duduk sambil mengisap rokoknya dalam. Aku menyaksikan adegan di mana aku mengentot Noni di layar TV. Aku terkejut, ternyata adegan tersebut bertolak belakang dari kejadian sesungguhnya. Dengan durasi film yang hanya 15 menit, aku melihat bagaimana aku mengentot Noni dalam posisi menghimpit tubuhnya yang terlentang, sementara tangannya ke atas dengan handuk melilit kedua tangannya, dan ditambah disamping tubuh Noni ada sebuah pisau, suara Noni yang terdengar juga tidak suara saat itu, aku mendengar Noni menangis, menjerit, hentikan.. hentikan.. ucapnya.
Aku ingat saat melakukannya Noni memang memintaku untuk melilitkan handuk ku ke tangannya, tapi pisau itu, pisau itu bukan milikku. Aku menyadari bahwa aku dijebak, Noni pintar bersandiwara. Lemaslah tubuhku, dengan kaset ini aku bisa diadili, oh.. Amang desahku lirih dengan putus asa.
Aku memandang Pak Arnan, “Ini bohongan kan Pak, tidak begini kejadiannya, Bapak banyak mengedit yang lainnya bukan? Ini tidak benar,” ucapku.
Pak Arnan tersenyum. “Dengan kaset itu, Dik Toni dapat diadili”.
“Apa mau Bapak sebenarnya dengan membuat ini?” tanyaku.
Aku melihat Pak Arnan tersenyum, dengan senyumnya yang dingin seperti pembunuh. Laki-laki tersebut bangkit dari duduknya.
“Simple, simple saja Dik Tony, Jiwa dibalas dengan jiwa, tubuh dibalas dengan tubuh, dan pemerkosa dibalas dengan pemerkosaan juga,” ucap laki-laki tersebut.
Aku terkejut, laki-laki ini mau memperkosaku? tanyaku dalam hati. Bang Nainggolan menangkap tubuhku, tanganku dipegangnya, diplintir kebelakang hingga tubuhku diseret ke ranjang.
“Sekuat apa kau berontak, sekuat itu juga tanganku memelintir tanganmu,” ucap laki-laki tersebut.
Pak Arnan naik ke atas ranjang, membuka celana jeansku bersamaan dengan kolor yang aku pakai.
“Eemm,” desahnya melihat kontolku. Laki-laki tersebut meremas-remas kontolku.
“Ternyata benar-benar besar dan panjang Bang Nainggolan,” ucapnya tersenyum.
Pak Arnan membuka celana pendeknya, kontolnya yang besar dan panjang melebihi kontolku, menjulur seperti belalai sampaimenyentuh seprei ranjang. Pak Arnan memukul-mukul kontolku dengan kontolnya. Kemudian laki-laki tersebut menaikkan kedua kakiku dan meletakannya di atas pundaknya.
Akh.. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, matilah aku, pikirku. Kontol Pak Arnan yang besar dan panjang itu dipaksa masuk ke lubang pantatku. Akh.. Inilah yang dikatakan Robert, “Bukannya untung malah buntung,” bukannya mendapatkan lubang pantat Noni, malah justru lubang pantatku yang menjadi korban.
Terkait
Pak Arnan menekan pantatnya, hingga batang kontolnya masuk lebih dalam ke lubang pantatku. Akh.. Sakitnya, aku menggigit bibirku manahan sakit. Kembali Pak Arnan menekan pantatnya. Akhh.. Desahnya. Koyakan lubang pantatku terdengar, Pak Arnan malah asyik menggoyang-goyangkan pantatnya sambil menjilati jari-jari kakiku, mengisap-isapnya, mengemut-emutnya, tangannya sesekali meremas-remas kontolku, mengelus-elus bulu-bulu kakiku, di pahakuyang lebat.
Aku merasakan tanganku dilepaskan Bang Nainggolan dari cengkramannya, laki-laki tersebut melepaskan kaosku, mengelus-elus dadaku yang bidang, kadangkala menarik-narik puting tetekku. Laki-laki tersebut duduk di atas dadaku setelah melepas kolornya, dan gila, laki-laki tersebut menyuruhku untuk mengisap-isap kontolnya. Lanjut baca!
Viral Ngewe Anal Seks di Rumah Tante Sange 3
Iklans.com - Noni bukannya meronta justru membalas cumbuanku, ternyata perempuan ini menyukainya, dia pasti bosan dengan Pak Arnan yang sudah tua itu, kontolnya mungkin sudah lembek, impoten sehingga Noni tidak puas dengan nya. Sebentar lagi akan kau rasakan kontol Abang, sayang ucapku dalam hati.
Aku terus mencumbui bibir Noni, aku menjilati lidahnya, Noni membalas dengan mengeluarkan lidahnya, dan sesaat lidah kami saling bersentuhan, akhh.. Nikmatnya, aku menarik bibir bagian bawah perempuan tersebut, aku membetotnya dan lama baru aku lepaskan. Sementara tanganku meremas-remas tetknya, ku raskan teteknya begitu padat dan kencang. Kutarik kaos Noni ke atas dan langsung teteknya ku telan, ku isap-isap berhgantian. Permainan ku membuat Noni mendesah keenakan, aku semakin bersemangat, ku jilati puting payudara Noni, ku isap lagi, ku tarik dengan bibirku.
“Akhh.. Akhh.. Enak Bang, Geli.. Geli..” desah Noni.
Aku membuka koas Noni, rok, dan sekaligus celana dalamnya. Hingga Noni telanjang bulat dihadapanku. Melihat tumpukan memeknya yang tebal, putih dengan jembut-jembutnya yang habis dicukur rapi, membuat aku semakin terangsang dan bersemangat. Aku menekan vagina Noni dengan tanganku.
“Akhh.. Akhh..” desah noni lagi menggelinjing, keenakan.
Tanganku terus menekan-nekan slepetnya, sambil terus mengisap-isap teteknya bergantian. Aku membuka handuk yang melilit di pinggangku, kontolku semakin besar dan panjang, kulit atas kontolku sudah terbuka, kepala kontolku yang besar dan merah sudah menantang.
Aku membimbing tangan Noni ke kontolku, perempuan tersebut langsung memegangnya dan sesekali mengocok-ngocoknya. Aku jilati lehernya, kuciumi dari atas leher, dagu, bibir, hidungnya yang mancung dan telinganya. Noni mendesah lagi.
“Isap kontol Abang,” bisikku.
Noni menggeleng, aku tidak memaksanya, dan terus mencumbui perempuan tersebut, seluruh tubuhnya kujilati, suatu saat kau akan menuruti keinginanku, pikirku. Aku menelentangkan Noni, dan langsung kutindih, cumbuan-cumbuan ku terus mendarat dibibirnya, dagunya, pipinya dan hidungnya. Tanganku memegang kontolku, dan perlahan aku memasukan kontolku ke lubang slepetnya.
Terkait
“Akhh.. Akhh, Bang,” desah Noni lagi.
“Enak, sayang,” bisiku, Noni mengangguk.
Kutekan pantatku, sehngga kontolku masuk lebih dalam ke slepetnya, hingga ku tekan lagi, akh, kontolku dijepit kuat di dalam slepet perempuan ini. Aku mulai menggoyang-goyangkan pantatku perlahan. Desahan-desahan Noni terus keluar, memacu semangatku untuk mengentotnya. Sesekali aku sodok slepet noni dengan kencang, desahannya semakin kuat terdengar, aku menghentikannya menarik nafas, Lanjut baca!
Viral Ngewe Anal Seks di Rumah Tante Sange 2
Tradingan.com - Ada 2 pintu yang bernomor 1 dan 2 di sebelah kiri, aku pikir mungkin inilah kamar kost yang disewakan, jarak antara kamar 1 dan 2 itupun berjauhan, dari ujung ke ujungnya lagi. Kami terus mengikuti perempuan tersebut dari belakang, aku perkirakan dari pintu besi tersebut sampai ke belakang sekitar 100 meter. Di belakang lebih rapi, asri dan bersih lagi, ada kolam kecil yang dibentuk seperti bukit-bukit, ada air terjun kecilnya, jembatan dan ikannya sudah mulai besar-besar ada puluhan jumlahnya.
Aku duduk di kursi persis di depan kolam. Sama seperti kursi di depan teras, kursi kayu lipat, di sampingnya meja mungil dan kursi kayu lipat lagi. Aku disuruh menunggu oleh perempuan tersebut, sementara Bang Nainggolan ikut masuk ke dalam rumah bersama perempuan itu dari pintu belakang.
Sedikit santai melemaskan otot-otot punggungku, sambil mendekap tas ransel yang aku letakan di dadaku. Tak berapa lama laki-laki bertubuh sedang, bulat berisi, berkepala seperti profesor, botak di depan bertelanjang, hanya memakai celana pendek bertuliskan Yonnex, bulu-bulu dadanya tampak tumbuh subur, tangan dan kaki dari bawah sampai pahanya ditumbuhi bulu-bulu lebat, dengan kulit gelap, hidungnya mancung dengan kepala oval dan taik lalat seperti kutil menempel di pipi sebelah kirinya, seperti Al Pacino orang ini pikirku, yah cukup tampan, mungkin keturunan indo atau apalah. Laki-laki tersebut tersenyum mengulurkan tangannya, dan aku sambut dengan menjabat tangannya.
“Maaf, lama menunggu yah?” ucapnya, memperkenalkan diri “Arnan,” ucapnya dengan suara yang tidak begitu keras dan terlalu pelan.
“Tony, Pak,” aku memperkenalkan diri juga.
“Uf, panas sekali harinya yah,” ucap Pak arnan, mengambil posisi duduk di kursi yang satunya.
Tubuhnya berkeringat, basah dan tonjolan kontolnya masih terlihat, membentuk di celana putihnya, aku menebak pasti mereka sedang mengentot siang-siang begini, dan kalau perempuan tersebut adalah bininya pasti dia belum pake Bra juga yah, karena aku lihat puting teteknya membentuk pada kaos putihnya, wah bodoh, pikirku, kenapa aku harus memikirkan yang bukan-bukan, tujuanku cuma mencari tempat kost, kalau sudah tercapai aku bisa ke tempat Mira, bersenang-senang dengan lonte langgananku di Losmen Melati.
Baru 3 bulan aku di Medan, aku beberapa kali mengentot dengan lonte di Losmen hingga aku menemukan lonte yang ahli memuaskanku. Untuk hal begitu bukan hal baru bagiku, di Kampung juga aku sering melakukannya, nafsuku yang begitu besar ditambah lagi pergaulanku yang luas, untuk soal materi aku lebih dari cukup untuk bersenang-senang dengan lonte di Kampungku. Di Kampung, Amang ku termasuk orang yang berada, yah boleh dikatakan Kaya lah untuk ukuran Kampung. Mabuk-mabukan bersama teman-teman dan sekaligus main dengan lonte di lokasi, makanya ke Medan aku juga bertekad untuk berubah, tapi dasar nafsuku yang besar, aku selalu pusing jika kontolku tidak di cuci, makanya seminggu sekali aku pergi ke Losmen untuk mengentot lonte pilihanku.
Terkait
“Mari lihat kamarnya,” ajak Pak arnan.
Aku mengikuti Pak Arnan ke samping, di mana semula Kami masuk, dan betul saja pintu tersebut adalah kamar kost yang disewakan. Pak arnan membuka pintu kamar nomor 1 dan mempersilahkan aku masuk untuk melihat. Ternyata di dalam kamar sudah komplit, ranjang spring bad single, TV, radio, kipas angin, VCD, lemari pakaian, kulkas kecil, meja tulis, dan bangkunya. Lanjut baca!
Viral Ngewe Anal Seks di Rumah Ku 1
Aopok.com - Cerita di bawah ini adalah fiktif, dan apabila ada kesamaan nama, tempat kejadian dan yang lainnya dengan para pembaca, adalah merupakan kebetulan belaka.
*****
Aku menyeberangi jalan raya yang dua jalur, bermaksud untuk melepas lelah di Warung Kopi di seberang jalan. Uff, panasnya hari ini membuat dahaga, sampai baju kaos yang ku kenakan menjadi basah oleh keringat. Aku memesan teh botol dengan esnya di gelas, memghempaskan pantatku di bangku panjang dan meletakan tas ranselku di meja.
Akhirnya pesananku tiba, akupun langsung meneguk teh botol tersebut yang sebelumnya kumasukan ke dalam gelas yang berisi es. Oh, nikmatnya, walaupun belum terasa dingin, namun teh botol tersebut telah habis 1/2 gelas ku minium. Aku mengeluarkan rokok dari saku bajuku dan mulai menghisap asapnya, wah betul-betul nikmat, apalagi angin bertiup dari belakangku menambah kesegaran untuk diriku yang kelelahan.
Warung Kopi itu dibangun di atas parit besar dengan lantai papan dan penutup dindingnya hanya kain bekas spanduk iklan saja. Ada 3 kurasa Warung Kopi yang seperti ini, letaknya juga tidak berjauahn antara satu dengan yang lainnya. Warung Kopi yang aku singgahi juga tidak begitu luas yang menyediakan minuman segar dan indomie rebus. Letaknya paling ujung dengan Warung Kopi yang lainnya. Aku memesan indomie rebus kepada Ibu penjual, sesekali pandangan ku ke jalan, melihat lalu lalang mobil pribadi atau angkutan yang berwarna kuning.
Akh, aku begitu pusing, sudah tengah hari begini, tempat kost yang ku inginkan belum dapat juga. Masih terngiang kata-kata kasar inang Boru yang dengan marah mengusirku.
“Sudahlah, kau tidak usah tinggal di sini” teriak Inang Boru.
Aku tidak sengaja menjatuhkan guci antik Inang Boru sehingga pecah berantakan yang mengakibatkan Inang Boru marah besar dan berbuntut dengan pengusiran. Pagi itu aku buru-buru sekali untuk berangkat kuliah hingga tak sadar, saat aku ingin meletakan tas ransel ke punggungku, ternyata menyenggol guci antik Inang Boru dan Prakk.. Jatuh ke lantai dan berserakan. Inang Boru keluar dari dalam kamarnya.
“Kau apakan guci itu Tony??” teriak Inang Boru, dengan mata melotot.
Inang Boru menghampiri guci kesayangannya, meratapi dengan mengutupi puing-puing guci tersebut. Enatah kata-kata apa lagi yang dikeluarkan Inang Boru sambil menangis, hingga mukanya yang berlumuran air mata tersebut menatapku.
Terkait
“Pergi, Pergi.. Pergi, tidak tahu diri, pergii,” teriaknya. Aku pun meninggalkan rumah tersebut dengan omelan-omelan Inang Boru tidak ku dengar lagi.
Lamunan yang sesaat itu sadar saat Bapak di sebelahku menanyakan sesuatu yang tidak jelas ku dengar.
“Kenapa Pak?” tanyaku lagi.
“Tidak masuk kerja?”
“Tidak Pak, Aku masih kuliah,” jawabku. Lanjut baca!
Cerita Ngentot Gadis Beijing China 2
Tradingan.com - Kemudian aku berbaring dan memeluk Sharlen sambil melumat bibirnya. Tanpa melepas ciuman tangannya, diam-diam dia meraih batangku dan diarahkan ke vaginanya. Sharlen melepas ciumannya lalu berjongkok di atas batangku. Tangannya membimbing batangku memasuki liang vaginanya, kunikmati setiap inci batangku memasuki vaginanya dengan meremas payudaranya sampai tertancap seluruhnya.
Sebelum memulai dia tersenyum dulu padaku dan menyeka keringat di dahiku. Kumulai ronde ini dengan menyentakkan pinggulku ke atas yang dibalasnya dengan gerakan naik turun dan desah kenikmatannya.
Rika menciumku dan berkata, “Her, sekarang bayar dulu hutanglu yah..!”
“Hutang? Hutang apaan..?” tanyaku bingung.
“Ini loh, pekerjaan lu yang belum beres tadi.” jawabnya sambil menaiki wajahku sehingga kemaluannya hanya beberapa cm dari wajahku.
Tanpa ngomong apa-apa lagi langsung kulahap kemaluan Rika yang sudah becek itu, lidahku menari-nari mempermainkan klistorisnya dan jari-jariku bertugas mengobok-obok liang vaginanya. Lidahku kukeraskan agar dapat masuk sedalam mungkin ke dalam vaginanya, sehingga menyebabkan goyangannya makin liar.
Tidak lama kemudian, “Aduh.. Rik.. Her.. gua.. keluar..!”
Sharlen menjerit pertanda mencapai orgasme. Tubuhnya menggelinjang sambil tangannya meremas payudara Rika yang berlutut di depan membelakanginya. Dan tidak urung Rika pun ikut menjerit karena bersamaan dengan itu dia juga mencapai klimaks, dan kemudian aku menyusulnya dengan menyemburkan spermaku di dalam rahim Sharlen. Kami bertiga orgasme dalam waktu yang hampir bersamaan, erangan kenikmatan sahut menyahut memenuhi kamar ini (untung saja temboknya cukup tebal untuk meredam keributan di sini).
Rika menjambak rambutku dan menjepit kepalaku dengan kedua belah pahanya dengan kencang, sehingga membuatku gelagapan disamping akibat semprotan cairan cintanya. Rika rebah di sampingku, begitu juga Sharlen, tubuh kami sudah basah bermandikan keringat. Saat kucabut kemaluanku, kulihat benda itu sudah berlumuran berbagai cairan baik sperma, ludah, cairan cinta, dan darah keperawanannya.
Aku lalu ke kamar mandi untuk membersihkan kemaluanku. Begitu keluar kudapati Rika yang masih bugil sedang duduk di sofa dan memegang gelas berisi red wine.
“Rik, Sharlen gimana..?” tanyaku.
“Udah teler tuh, lu temenin gua minum aja sini.” katanya.
Aku lalu melihat Sharlen sudah tertidur pulas akibat kelelahan dan mabuk. Dengan tissue kulap keringat di dahinya dan kemaluannya yang basah oleh berbagai cairan. Lalu kuselimuti dia sampai ke leher, setelah mengecup bibirnya kutinggalkan dia dan menghampiri Rika.
“Uuff.. capeknya, bagi minumnya dong Rik..!” kataku sambil menjatuhkan diri di sofa.
Dituangkannya segelas wine untukku, kami lalu melakukan ‘toast’ dan meminumnya sampai habis.
“Gimana barusan, Sharlen hebat ngga..?” tanyanya membuka percakapan.
Aku hanya mengangguk karena masih lelah.
“Walah.., jawabnya kok lemes amat, udah ngga kukuh nih ye..?” katanya.
“Lemes Rik, daritadi lu cuma jilat-jilat aja sih makannya masih seger.”
“Ya udah, kalo gitu sini gua bikin seger lagi deh..!” tawar Rika.
Terkait
Disuruhnya aku duduk membelakangi, lalu dia pijat pundak dan punggungku. Pijatannya lumayan enak, seterusnya tangannya maju ke depan mengelus dadaku, menempelkan dadanya di punggungku. Dia melakukan ‘Thai Massage’ dengan menggesek-gesekkan dadanya di punggungku, hal ini menyebabkan gairahku mulai bangkit kembali, terutama saat tangannya mulai turun dari dada menuju daerah selangkangan, apalagi sesekali dia menjilat leherku. Lanjut baca!
Cerita Ngewe Gadis Beijing China 1
Aopok.com - Saat itu, bulan Januari 2026 di Beijing, suasana tahun baru masih terlihat mewarnai kota berpenduduk 12 juta orang itu. Selama liburan musim dingin itu banyak teman-teman dekatku termasuk roomate-ku yang pulang. Aku tidak pulang karena waktu libur musim panas 6 bulan sebelumnya aku baru pulang, sekalian menghemat biaya, apalagi saat itu rupiah sedang terpuruk.
Aku mengisi waktu luang selama sebulan lebih itu dengan tour ke kota-kota di selatan yang cuacanya relatif lebih hangat seperti Hongkong, Shenzhen, dan Guangzhou. Sepulangnya ke Beijing, liburanku ternyata masih tersisa lebih dari seminggu. Sisa hari yang sepi dan membosankan itu kuisi dengan main PS, nonton VCD, dan jalan-jalan ke mall. Aku sering berkhayal bagaimana rasanya dingin-dingin gini ada cewek cantik yang menemaniku.
Akhirnya pada suatu ketika terwujud juga impianku. Suatu hari aku sedang berjalan-jalan di Xidan, salah satu pusat perbelanjaan di sana (sebagai info, harga barang di sini sangat murah, asal pintar menawar kita bisa mendapatnya dengan setengah harga). Lelah setelah berkeliling dan belanja seharian, aku memasuki restoran KFC untuk mengisi perut.
Ketika aku sedang makan, kudengar suara orang berbicara dalam bahasa Indonesia, ternyata suara itu berasal dari 2 gadis cantik duduk tidak jauh di sampingku. Yang satu tinggi langsing, berambut panjang kemerahan, bermata sipit, dan yang satunya lagi berambut sebahu lebih dikucir. Aku tadinya bermaksud menyapa, namun kutunda niatku setelah kudengar mereka sedang membicarakan diriku.
Dengan sikap pura-pura cuek, kusimak percakapan mereka.
“Eh, Len, liat ngga cowok yang sendirian disana tuh, ok juga yah..” kata yang rambut panjang.
“Gile lu, suaranya keras amat, kalo dia denger gimana..?”
“Fang xin lah (tenanglah), biar denger juga dia ngga ngerti kok.” (ternyata mereka tertipu oleh wajah Chineseku yang mirip orang sana, ditambah lagi penampilanku waktu itu yang mirip orang lokal).
“Hhmm.., lumayan juga sih, rambutnya mirip Nicholas Tse, gatal ya Rik, gara-gara udah lama ngga ketemu si Edwin.”
Aku berusaha menahan tawaku dengan menutup mulut atau melihat ke arah lain. Lalu aku sengaja lewat di depan mereka dan menyapa dengan ramah.
“Hai, anak Indo juga nih..!”
Mereka kaget setengah mati terutama yang berambut panjang itu, wajahnya memerah dan tertunduk malu, yang rambutnya dikuncir melirik pada temannya sambil tertawa kecil.
Singkatnya, perkenalan kami berlanjut dan kuketahui yang berambut panjang kemerahan itu bernama Rika, umur 22 tahun, sebaya denganku dan yang satunya bernama Sharlen, umur 20 tahun. Mereka berdua sudah setahun belajar bahasa di sini. Senang sekali akhirnya aku dapat ngobrol panjang lebar dengan bahasa Indonesia lagi. Habis makan kami berkeliling menikmati suasana senja kota Beijing yang masih diselimuti salju.
Walaupun baru kenal, namun kami begitu cepat akrab, mungkin karena faktor senasib sepenanggungan di negeri lain. Sifat Sharlen yang kalem dan wajahnya yang imut seperti Kyoko Fukada membuatku jatuh hati padanya, aku berusaha untuk lebih mengenalnya lebih dalam. Tidak terasa waktu cepat berlalu, sehingga sekarang sudah hampir jam 9 malam. Taksi yang membawa kami tanpa terasa pula sudah mendekati apartemen mereka di daerah Xueyuan Lu.
“Her, mau liat-liat tempat kita ngga? Temenin tuh si Sharlen, dia kan pengen punya pacar.” kata Rika sambil tertawa.
“Idihh, siapa yang mau, lu kali Rik.” balas Sharlen menyikut temannya.
“Lain kali deh, takut kemalaman. Tempat gua masih jauh sih.” jawabku berbasa basi.
“Aahh, takut amat sih malam juga masih ada taksi kok, lagian Beijing kan aman ngga kaya Indo.” kata Rika.
“Iya Her, kita juga lagi suntuk nih, banyak yang pulang sih.” sambung Sharlen.
Akhirnya aku memutuskan mampir di tempat mereka dulu. Sebelum ke apartemennya, mereka membawaku mengitari daerah sekitar yang merupakan daerah kost dan sekolah pelajar-pelajar mancanegara itu. Udara menjadi hangat dan tercium aroma khas kamar cewek begitu kumasuki kamar mereka yang tidak terlalu besar namun tertata rapih (beda dengan kamarku yang mirip kapal pecah).
Terkait
“Eh, lu orang ngobrol aja dulu, gua mau berendam dulu yah.” kata Sharlen, lalu dia mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
Sepeninggal Sharlen, aku dan Rika ngobrol-ngobrol sambil nonton TV. Rika orangnya agak bawel dan kocak, kami terhanyut dalam gelak tawa obrolan kami, dari situ kuketahui bahwa dia sudah punya pacar di Indonesia, kukorek keterangan lebih lengkap mengenai Sharlen, thanks God ternyata Sharlen belum ada yang punya, jadi terbuka kesempatan bagiku untuk mendapatkannya. Lanjut baca!
Dokter Ngentot Anus Istri di Depan Mataku 2
Tradingan.com - Sebenarnya banyak kebiasaan-kebiasaan orang di kapal itu yang memungkinkan terjadinya kontak seksual di antara komunitasnya, termasuk Bahar dan Sam. Bayangkan, mereka biasa mandi rame-rame di laut. Dan sebagian besar dari mereka biasanya mandi dengan bertelanjang bulat. Kemudian sehari-harinya mereka juga berpenampilan seenaknya. Bertelanjang dada dan hanya bercelana pendek atau sarungan saja. Bahkan tidak sedikit pula yang hanya bercelana dalam saja ketika melakukan aktivitas sehari-hari. Sebenarnya Sam dan Bahar pun termasuk yang melakukan kebiasaan-kebiasaan itu. Tapi memang dasarnya mereka tidak punya niatan yang ‘jauh’, maka di antara mereka berdua tidak pernah terjadi hal-hal aneh pada saat-saat seperti itu.
Ada sebuah kekonyolan yang diceritakan Bahar. Di antara rekan mereka ada yang sesekali tanpa malu-malu mempertontonkan kemaluannya sendiri bila sedang tegang karena datang birahinya. Lalu orang itu berkeliling kapal sambil berteriak-teriak ‘Isep! isep! isep!, kocok! kocok! kocok!’ seolah menawarkan miliknya untuk diisap atau dikocok. Yang lain biasanya hanya menanggapinya dengan tertawa-tawa atau gelengan kepala melihat kegilaan itu.
“Oral seks? Ciuman? Tidak pernah sama sekali!”
Bahar menjawab dengan tegas pertanyaan yang kuajukan apakah ia pernah melakukan itu dengan Sam. Seolah-olah ia jijik melakukan hal itu.
“Kenapa?”
“Waktu itu saya ‘kan belum kenal begituan, Mas. Jadi nggak pernah kepikiran berciuman dengan sesama laki-laki, apalagi oral seks. Si Sam apalagi. Ia benci dengan kelakuan beberapa rekan di kapal yang kadang-kadang agak bebas dan terbuka dalam hal begituan.”
(Pada kesempatan yang berbeda, Bahar mengungkapkan bahwa ketika pertama kali bekerja di kapal itu, ia memang ‘terpaksa’ melakukan hubungan semacam itu karena kondisi yang mendesak. Tapi ketika ia pindah kerja ke kapal yang lain yang lebih besar-dan berpisah dengan Sam-secara perlahan Bahar mulai terbiasa dan bisa menikmati hubungan semacam itu, bahkan ia melakukannya sampai jauh. Apalagi setelah ketemu dengan si Portugis. Silakan baca ‘oase’ sebelumnya).
Jam dinding berdentang delapan kali. Tapi Bahar masih asyik bercerita tentang teman-temannya di kapal. Dan terus terang aku semakin tertarik dengan pengalaman-pengalamannya itu. Di luar kisah-kisahnya dengan Sam, ternyata banyak terungkap tentang hal-hal sepele yang diceritakan Bahar, tetapi cukup ‘menyengat’.
“Selain dengan Sam, Abang pernah dengan yang lain?” tanyaku. Ia menggeleng. Dan aku percaya saja.
“Jangankan ngajak main, bercanda sama kami saja mereka pikir-pikir,” kata Bahar kemudian.
Artikel Terkait
Ia lalu bercerita bahwa ada satu dua teman mereka di kapal yang kadang-kadang bercandanya kelewat batas. Guyonan-guyonan mereka biasanya kasar, porno dan cenderung jorok. Bahkan kadang-kadang ada yang sampai betot-betotan ‘burung’ atau main pelorot-pelorotan celana, lalu melemparkannya ke laut. Di lain waktu bila kebetulan ada salah seorang ketahuan sedang ‘tegang’-entah karena sedang naik libidonya atau terangsang oleh sesuatu-maka ada saja temannya yang usil meremas miliknya sampai yang punya berteriak-teriak. Bahkan kadang-kadang ada yang lebih usil memelorotkan celana orang itu sehingga siapapun yang ada di sekitar situ bisa melihat dengan jelas kondisi kemaluan orang yang sedang tegang itu. Lanjut baca!
Dokter Ngentot Anus Istri di Depan Mataku 1
Iklans.com - Bahar datang menjemputku sekitar jam satu, ketika matahari sedang terik-teriknya membakar ubun-ubun.
“Sudah makan ‘Bang?” sapaku begitu ia tiba di kedai Pak Tua tempat aku menunggu.
“Belum,” jawabnya pendek. “Kita makan siang di sini saja, ya?” ajaknya kemudian.
Setelah pamitan pada Pak Tua, kami kemudian menuju warung makan yang terletak sekitar seratus meter dari kedai ini. Bahar makan lahap sekali. Kelihatan ia sedang lapar. Padahal kalau mau, dia bisa saja makan di rumah. Tapi barangkali ia memang mau makan bareng aku. Sebuah kesetiaan yang kadang membuatku segan terhadapnya.
“Hei! Bahar!” suara teguran mengagetkan kami berdua.
Untuk kedua kalinya aku terkejut, karena orang yang menegur Bahar ternyata laki-laki yang kujumpai di gubug mandi tadi! Hhh! Bisa gawat nih, pikirku. Tapi untungnya laki-laki itu bersikap wajar ketika melihatku. Seolah kami belum pernah bertemu sama sekali. Kulihat Bahar dengan antusias menyambut sapaan laki-laki itu.
Mereka lalu saling menanyakan kabar masing-masing dan kemudian terlibat dalam pembicaraan yang akrab. Aku agak was-was juga kalau-kalau pembicaraannya menyinggung aku. Sampai akhirnya Bahar memperkenalkanku pada laki-laki itu.
“Samuel. Panggil saja Sam..” jabatannya akrab.
“Sam, masak kau nggak kenal dengan Pak Harsoyo? Dia kan yang dulu pernah penelitian di daerah sini,” Bahar mencoba mengingatkan temannya itu.
“O iya! saya baru ingat! Pantas, sepertinya saya sudah pernah lihat,” kepura-puraan Samuel membuatku agak jengah. Kenapa ia harus bersandiwara seperti itu? Toh, seandainya Bahar tahu bahwa kami sudah saling kenalan, itu suatu hal yang wajar.
Tentu saja ia dan aku bermaksud menyembunyikan kejadian yang kami alami bersama tadi. Tapi seharusnya ia tak perlu menyembunyikan kenyataan bahwa kami berdua sudah saling ketemu. Pasti ada alasan kenapa ia takut perkenalan kami diketahui oleh Bahar. Jangan-jangan ia tahu aku dan Bahar punya hubungan khusus atau, justru ia sendiri yang punya hubungan khusus dengan Bahar?
rtikel Terkait
“Makan, Sam,” Bahar menawari.
“Terima kasih, aku sudah makan tadi. Sekarang aku musti ke laut. Ada proyek,” katanya sambil siap-siap berdiri.
Sam lalu pamitan pada kami dan mimik wajahnya seolah mengisyaratkan padaku untuk tetap merahasiakan kejadian dengannya tadi pagi.
“Teman lama, ‘Bang?” tanyaku begitu Sam berlalu ke arah bibir pantai.
“Ya. teman di kapal dulu,” jawab Bahar sambil mengunyah. Lanjut baca!










No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...